Home Kuala Kapuas Program Diversi Anak Dilakukan Pertama Kali di Kejaksaan Negeri Cabang Palingkau

Program Diversi Anak Dilakukan Pertama Kali di Kejaksaan Negeri Cabang Palingkau

97
0
SHARE

    Kapuas- Kejaksaan Negeri Cabang Palingkau untuk pertama kalinya melakukan diversi anak terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Peristiwa ini dialami Hadi Rusadi bin Pahmi.

    Sejak Cabjari Palingkau berdiri, diversi ini merupakan diversi yang pertama kali dilakukan di wilayah Kecamatan Kapuas Murung, Kecamatan Dadahup dan Kecamatan Pulau Petak.

    Keberhasilan cabjari Palingkau dalam melaksanakan Diversi Anak ini pun didukung dengan penetapan pengadilan negeri kuala kapuas.

    Seperti diketahui, diversi adalah tindakan persuasif atau memberikan kesempatan kepada anak yang berhadapan dengan hukum untuk memperbaiki kesalahannya.
    Dalam pelaksanaannya tetap mempertimbangkan rasa keadilan sebagai prioritas utama disamping pemberian kesempatan untuk menempuh jalur non pidana seperti ganti rugi, kerja sosial atau pengawasan orang tua.

    Langkah pengalihan dibuat untuk menghindarkan anak dari tindakan hukum dan bertujuan untuk mencegah pengaruh negatif dari tindakan hukum berikutnya yang dapat menimbulkan stigmatisasi terhadap anak.

    Sementara tujuan dilakukan diversi berdasarkan ketentuan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah untuk mencapai perdamaian antara korban dan anak, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, serta menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan dan menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak.

    “Diversi anak pertama ini juga sekaligus merupakan pemanfaatan pertama kali Ruang Diversi Anak yang diresmikan oleh Kajari Kapuas pada bulan Juli yang lalu.
    Sehingga pembangunan ruang Diversi tersebut bermanfaat dalam menunjang kinerja Cabjari Palingkau dalam memberikan pelayanan hukum terhadap masyarakat di wilayahnya, jadi tidak sia-sia dibangun,” jelas Kepala Kejaksaan Negeri Cabang Palingkau Martino Manalu SH.MH.

    Dalam proses diversi terhadap anak akan menghindarkan terjadinya kekerasan terpola dan sistematis, khususnya kekerasan psikologis terhadap anak oleh aparat penegak hukum. Terjadinya kekerasan terpola dan sistematis terhadap anak dalam proses pemeriksaan akan menimbulkan trauma yang sangat mendalam bagi anak.

    Oleh karenanya, menurut Manalu, melalui mekanisme diversi terhadap anak justru akan menghindarkan anak dari terjadinya kontak antara anak dengan aparat penegak hukum. “Melalui mekanisme diversi anak tetap diberikan peluang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tetapi melalui mekanisme yang lebih elegan menurut prespektif anak. Jadi Diversi anak tidak dimaksudkan untuk membebaskan anak dari kemungkinanadanya pertanggungjawaban anak terhadap segala akibat perbuatannya,” tutupnya.(ROM)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here