Home Kuala Kapuas Tambang Pasir Puya Ilegal Masih Beroperasi, Kemana Aparat Penegak Hukum?

Tambang Pasir Puya Ilegal Masih Beroperasi, Kemana Aparat Penegak Hukum?

501
4
SHARE

    Kapuas- Debit air Sungai Murui di Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mulai meninggi. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai, ini berarti untuk meningkatkan kewaspadaan atau antisipasi banjir.

    Tapi hal itu, tidak berlaku bagi para pekerja dan pengangkut pasir zirkon atau puya. Motoris ketinting atau perahu kelotok yang disewa para bos pasir puya asal Tiongkok malah menambah jam kerja mereka.

    Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan tim poroskalteng.com, Jumat (11/5), dalam sehari ketinting bisa bolak balik hingga 8 kali. Itu baru satu perahu saja, sementara di lokasi tersebut berseliweran lebih dari enam perahu setiap harinya. Artinya, dalam sehari mereka bisa menguras dan mengangkut puluhan ton pasir puya.

    Masyarakat sekitar penambangan pasir puya ilegal ini mengaku prihatin akan kerusakan lingkungan sungai. “Mereka bisa kerja bebas, meski tak punya izin. Tak pernah ada razia aparat kepolisian atau penegak hukum lainnya. Atau jangan-jangan, sudah ada kongkalikong antara pengusaha dengan aparat penegak hukum,” jelas warga kesal.

    Bukan tanpa alasan warga kesal dengan ulah para penambang pasir puya ilegal. Sungai yang tadinya bisa dimanfaatkan secara maksimal, sekarang sudah tidak bisa lagi. “Sebagian warga yang nelayan mulai mengeluh sulitnya mendapat ikan,” tegas warga.

    Warga berharap aparat Polres Kapuas dan Polda Kalteng segera menertibkan tambang pasir puya ilegal, yang jelas merusak lingkungan ini. “Segera ditertibkan oleh polisi. Kalau tidak, jangan salahkan kami jika bertindak sendiri,” tutup warga.(ABD)

    4 COMMENTS

    1. Seolah-oleh masyarakat tdk menyukai adanya tambang itu, tetapi dari 3 gambar di atas malah masyarakat didaerah situ yg bekerja. Apakah masyarakat itu atau MEDIA INI yg resah karena tdk dapat jatah? Sehingga membuat berita ini.

      • Terima kasih masukannya, akan kami perbaiki ke depannya, tapi kami menyajikan berita dengan fakta di lapangan, mohon maaf kalo beritanya jadi mengganggu mister.

        Semoga mister yang mungkin lebih paham dan profesional lebih bisa mendidik kami menjadi pewarta yang baik.

        Soal jatah, mohon maaf kami tidak ada pikiran ke sana, kami melihat ke lapangan, karena ada warga yang melaporkan kepada kami. Dan sudaj diteruskan ke aparat penegak hukum, juga tidak direspon.

        Salam hangat dari tim redaksi poroskalteng.com, yang masih belajar sana sini

    2. orang2 dikampung saya pada ke murui, untuk kerja puya… itu sudah dilakukan turun temurun. mungkin karna hasilnya memuaskan kali y… tapi mereka hanya mendapatkan 5000 rupiah perkilonya. dengan potensi hasil sekitar 100kg perhari, belum dipotong minyak mesin dll,. sedangkan perusahaan yang dikirim harganya jauh selisih.. yaitu ,,, berkisar 100rb perkilo,,, duh… kaya banget y

      • Terima kasih atas infonya, bisa menjadi perbendaharaan bagi redaksi kami ketika akam meliput. Salam poroskalteng.com

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here