Home Wisata dan Kuliner Kenta, Kue Khas Dayak yang Terlupakan

Kenta, Kue Khas Dayak yang Terlupakan

886
0
SHARE

    Gunung Mas- Kenta adalah salah satu makanan khas masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya Suku Dayak yang berdomisili di wilayah Kabupaten Gunung Mas. Makanan khas yang berbahan dasar gabah atau padi ketan ini mirip dengan makanan khas masyarakat Bugis di Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan yang disebut Bette. Kenta dibuat dengan menyangrai padi ketan, kemudian menumbuknya di dalam lesung kayu hingga pipih.

    Pembuatan Kenta biasanya dilakukan oleh para petani setelah musim panen padi tiba. Mereka memang sengaja menyisihkan padi ketan secukupnya dari hasil panen untuk dibuat Kenta yang kemudian akan disajikan dalam pesta adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang diberikan.

    Saat ini, Kenta termasuk ke dalam makanan langka yang sudah jarang ditemukan di kalangan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Salah satu faktor yang menyebabkan makanan ini langka adalah proses pembuatan yang cukup rumit. Pembuatan Kenta dilakukan minimal oleh 5 orang dan memakan waktu satu hari penuh.

    Proses yang rumit tak serta merta membuat masyarakat Dayak meninggalkan kuliner warisan leluhur ini. Satu hal yang dilakukan untuk tetap melestarikan warisan ini adalah mengadakan lomba membuat Kenta dalam setiap perhelatan agenda acara seni dan kebudayaan. Festival ini biasa disebut dengan nama Festival Mihing Manasa yang dihelat di Kelurahan Kuala Kurun, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah.

    Keistimewaan kenta dapat dimakan langsung setelah melalui proses penumbukan, namun rasanya sedikit lebih hambar. Agar lebih nikmat dan lebih terasa kelezatannya, Kenta biasanya dicampurkan dengan parutan kelapa dan air kelapa muda lalu ditaburi sedikit gula pasir atau bisa juga diseduh dengan air panas dan diberi campuran susu. Selain rasanya gurih dan manis, tekstur Kenta yang kenyal membuat makanan ini semakin nikmat.

    Langkah pertama yang harus dilakukan dalam proses pembuatan Kenta adalah menyiapkan gabah atau padi ketan secukupnya. Padi ketan tersebut kemudian direndam air selama kurang lebih 7 – 8 jam. Setelah itu, padi ketan ditiriskan sejenak lalu dijemur hingga kering. Selanjutnya, padi ketan yang sudah kering disangrai atau dalam bahasa Dayak disebut manyangga.

    Proses manyangga ini biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 – 15 menit. Perlu diingat, bahwa selama proses menyangga, padi ketan harus selalu diaduk sambil dibolak-balik agar tidak gosong.

    Usai menyangrai dan padi ketan benar-benar telah kering, padi ketan langsung ditumbuk dengan menggunakan lesung kayu untuk memisahkan antara gabah dengan kulitnya. Pada tahap inilah pembuatan Kenta membutuhkan banyak tenaga. Sedikitnya membutuhkan tiga orang yang bertugas menumbuk padi ketan dan dua orang yang bertugas untuk mengaduk Kenta atau dalam bahasa Dayak disebut dengan tukang karuit. Proses pengadukan ini perlu dilakukan karena padi ketan tersebut biasanya lengket pada lesung. Alat yang biasa digunakan untuk mengaduk adalah bilah bambu yang telah diruncingkan ujungnya.

    Proses selanjutnya adalah membersihkan kulit padi ketan dengan alat kiap atau nyiru sehingga menjadi nasi ketan berbentuk pipih menyerupai sereal gandum (oatmeal). Selanjutnya, Kenta siap disantap dengan dicampurkan parutan kelapa muda, air kelapa, dan gula pasir.

    Bagi Anda yang penasaran, mungkin tak ada salahnya mengunjungi kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah.(RMD)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here