Home Kalteng 24 Jam Situs Adat Dirusak, Efek Buruknya Pengelolaan Plasma Oleh Perusahaan Sawit

Situs Adat Dirusak, Efek Buruknya Pengelolaan Plasma Oleh Perusahaan Sawit

219
0
SHARE

    Kotawaringin Timur- Situasi di Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur, yang damai kini bergejolak. Hal itu terjadi pasca penyerangan yang berujung perusakan situs adat Dayak di desa tersebut. Diduga penyerangan dilakukan oknum keamanan perusahaan PT Mustika Sembuluh.

    “Untuk situasi di sana memang tidak ada keributan. Tetapi bergejolak antara PT Mustika Sembuluh dengan warga Desa Pondok Damar,” kata Plt Camat Mentaya Hilir Utara, Ady Candra MD Atuk, Minggu (4/3).

    Candra menjelaskan, masalah perusakan situs adat di desa itu ditangani Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotim. Masalah itu sudah dilaporkan tokoh adat desa setempat ke DAD. “Kami dari pihak kecamatan memediasi terkait masalah pemortalan,” katanya.

    Adapun situs budaya yang dirusak di Desa Pondok Damar yakni Patung Sapundu. Selain itu, oknum satpam perusahaan juga merusak rumah warga. Pengerusakan itu berawal dari tuduhan terhadap warga terkait pencurian sawit perusahaan. Petugas keamanan perusahaan mendatangi rumah warga yang dituduh mencuri tersebut.

    Menyikapi kasus perusakan situs adat di Desa Pondok Damar oleh oknum keamanan perusahaan Sawit PT Mustika Sembuluh, anak perusahaan Wilmar Group, Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Sugianto Sabran mengimbau semua pihak menahan diri.

    “Informasi terkait kasus situs dirusak satpam itu, saya minta agar kita semua menahan diri, ada hukum. Saya perintahkan Kapolda dan Kabinda, dan saya tidak ingin ribut. Kita serahkan pada proses hukum berlaku,” ungkap Sabran usai menggelar pertemuan antara Pemprov dan FKPD Kalteng, Senin (5/3) petang.

    “Tadi kajati saya undang supaya tahu semua permasalahan sebetulnya, kok selalu saja ada kasus antara perusahaan dan masyarakat,” imbuhnya.

    Berdasarkan catatan poroskalteng.com, konflik antara perusahaan dan masyarakat tidak hanya di Mustika Sembuluh, tetapi konflik perkebunan juga terjadi di perusahaan lainnya. Dia ingin agar kasus diselesaikan dengan pendekatan yang menyeluruh, mendasar, dan solutif.

    “Harus diselesaikan komprehensif, tidak boleh sepenggal-sepenggal. Ini apakah ada karena tidak ada plasma sehingga muncul pencurian. Dengan penyelesaian komperehensif, sehingga tidak ada kesenjangan lagi kedepannya antara pengusaha dengan masyarakat akar rumput. Mereka ada penghasilan dan perusahaan dengan nyaman melakukan usaha dengan adanya plasma,” pungkasnya.

     

    Kapolda Kalimantan Tengah (Kalteng) Brigjen Pol Anang Revandoko menyatakan, berupaya keras menelusuri dan mengumpulkan bukti kasus perusakan situs adat di Desa Pondok Damar.

    Perusakan ini, rentetan dari penyerangan terhadap warga yang diduga dilakukan oknum Satpam PT Mustika Sembuluh (Wilmar Group) Sabtu (3/3). Situs adat yang dirusak berupa Patung Sapundu dan Pukung Sandung.

    Masyarakat adat sangat menyayangkan ulah oknum satpam perusahaan itu, karena tindakan perusakan di luar lingkungan perusahaan. Meskipun dalih oknum satpam adalah ingin melakukan pengejaran pelaku pencurian buah sawit.

    Barisan pertahanan masyarakat adat dayak (Batamad), Dewan Adat dayak (DAD) Kotim maupun DAD Kalteng pun menaruh perhatian besar atas kasus ini.

    Anang Revandoko menegaskan, pihaknya berupaya keras menelusuri kasus tersebut dengan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan dan keterangan saksi-saksi.

    “Terkait perusakan itu, kan ada pelaporan, nah kita cari bukti di lapangan. Tidak boleh berdasar pada katanya,” tegas Anang.

    Anang mengatakan, untuk sementara saat ini timnya sedang melaksanakan tugas di lapangan, dalam rangka mencari dan mengumpulkan saksi, barang bukti, dan keterangan yang mendukung terjadinya unsur pidana.(AGN)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here