Home Lintas Kalteng Pembalakan Liar Dibiarkan Rusak Hutan Kapuas, Dimana Pemerintah dan Penegak Hukum?

Pembalakan Liar Dibiarkan Rusak Hutan Kapuas, Dimana Pemerintah dan Penegak Hukum?

203
0
SHARE

    Palangkaraya- Borneo Orangutan Survival Foundation sampai saat ini masih menemukan bukti-bukti terjadinya pembalakan liar terjadi di wilayah kerja hutan lindung dan konservasi di kawasan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Perambahan hutan yang dilakukannya pun untuk kepentingan industri kayu yang terus berlangsung setiap hari.

    “Kayu hasil pembalakan kami temui setiap hari di sepanjang Sungai Mantangai. Tim dari program Konservasi Mawas selalu melaporkan kejadian yang ditemui di lapangan kepada pihak yang berwajib, namun deforestasi ini masih saja terus terjadi,” ujar Jhanson Regalino, Program Manager Program Konservasi Mawas Yayasan BOS kepada poroskalteng.com, Senin (19/2).

    “Tim lapangan kami di Mawas hampir setiap kali menemui iring-iringan kayu hasil tebangan ini di sungai saat berpatroli di wilayah kerja kami yang mencakup 300 ribu hektare. Yayasan BOS tidak memiliki kewenangan penindakan atau penegakan phukum, karenanya kami hanya bisa melaporkan kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian,” jelasnya.

    Menurut catatan kami, di bulan Januari 2018 ini saja, kami telah menemukan lebih dari 5.000 batang kayu. Lokasi penemuan ini tersebar di 15 titik yang berbeda di sepanjang Sungai Mantangai, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas saja.

    Kami sangat khawatir kegiatan ini bisa memperburuk kondisi lingkungan hidup, terutama di hutan gambut di Kabupaten Kapuas, terlebih mengingat telah muncul sejumlah titik api di beberapa provinsi, termasuk Kalimantan Tengah.

    Sementara itu Dr. Ir. Jamartin Sihite, MSc., CEO Yayasan BOS mengatakan, hutan gambut adalah kawasan yang sangat mudah terbakar, dan hutan gambut di daerah ini sudah sangat terdegradasi. Kita semua harus belajar dari kebakaran besar di tahun 2015. Secara total, diperkirakan kerugian negara mencapai Rp221 triliun, dengan 2,6 juta hektare hutan dan lahan pertanian musnah.

    “Di Kalimantan Tengah sendiri, berminggu-minggu penduduk harus hidup di tengah asap tebal yang membahayakan kesehatan. Dan saya perlu ingatkan juga, bahwa hutan gambut yang terbakar melepaskan lebih banyak polusi udara, karena sebelumnya ia berfungsi mengikat karbon dioksida ” terangnya.

    Jamartin menyerukan agar pihak yang berwenang segera menertibkan kegiatan penebangan kayu ini, sebelum kita semua kembali dilanda bencana lingkungan berikutnya. Kita harus bekerja keras menjaga kawasan ini karena saat ini, kami melindungi sekitar 2.550 orang utan liar yang berada di wilayah ini.”Pasca kebakaran hutan di daerah hutan gambut di Kabupaten Kapuas tahun 2015 lalu, Yayasan BOS melaksanakan misi penyelamatan orangutan di tepian Sungai Mangkutub dalam periode akhir 2015 sampai dengan awal 2017 lalu dengan hasil sebagai berikut, 88 orang utan berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke wilayah hutan yang lebih aman, 1 orang utan direhabilitasi akibat luka-luka tembak, dan 1 orang utan ditemukan mati akibat luka-luka,” ujarnya.(RMD)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here