Home Wisata dan Kuliner Tiwah, Rukun Kematian Penuh Kebahagiaan

Tiwah, Rukun Kematian Penuh Kebahagiaan

142
0
SHARE

    Upacara tiwah merupakan rukun kematian tingkat akhir suku Dayak Ngaju pada umumnya. Tujuannya, mengantar roh menuju tempat asal bersama Sang Pencipta, sebagian besar masyarakat suku Dayak menyebutnya surga (lewu tatau).

    Sebagian besar ritual dilaksanakan di dua tempat, yakni di huma betang milik keluarga besar dan di lapangan sekitar rumah itu. Di lapangan, terdapat sangkai raya, tempat menyimpan anjung-anjung (bendera kain) dan persembahan untuk Ranying Hatala atau Sang Pencipta.

    Sangkai raya dikelilingi 18 sapundu, patung yang diukir berbentuk manusia untuk mengikat hewan kurban, seperti sapi dan kerbau. Sapundu dibuat dari kayu ulin asli atau yang dikenal dengan kayu besi, proses mengukir, mengantar, dan memasang sapundu pun dilalui dengan sejumlah ritual adat.

    Manjamput laluhan merupakan proses menjemput tamu atau para keluarga dari kerangka jenazah yang akan ditiwah. Pada proses itu, tamu dijemput di pagar dan tuan rumah menyambutnya dengan minuman sambil melemparkan beras.

    Mereka berbagi minuman dan saling mengoleskan bedak dan kapur di wajah, baik laki-laki maupun perempuan. Setelah itu, baik tamu maupun tuan rumah menari dan bernyanyi bersama sambil mengelilingi sangkai raya dan sapundu.

    Saat menari, para perempuan menggunakan selendang bercorak Dayak, sedangkan para laki- laki mengikatkan mandau (parang khas Dayak) di pinggang mereka. Semuanya menggunakan ikat kepala merah di kepala.

    Pada ritual tabuh satu dan tabuh dua, hewan kurban yang diikat di sapundu ditusuk menggunakan tombak oleh para keluarga dari masing-masing pemilik kerangka jenazah. Hewan ditombak sampai jatuh tersungkur ke tanah dan mati.

    Beberapa orang melemparkan butiran beras ke hewan kurban sebagai bentuk doa agar kurban diterima pencipta.

    Begitu hewan-hewan kurban berjatuhan dan mati, beberapa orang dengan parang memotong kepala hewan-hewan itu. Penggalan kepala lalu dikumpulkan menjadi satu di sangkai raya sebagai makanan para roh.

    Daging dari hewan-hewan itu dimasak dan dibagikan kepada semua orang, ada yang membawa ke rumah, ada pula yang langsung memakannya di huma betang.

    Anak-anak, orangtua, pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang agama berbeda menari sambil bernyanyi dengan penuh riang gembira setelah ritual pengurbanan selesai sampai malam menjemput. Mereka merayakan kenaikan roh keluarga mereka ke lehu tatau.

    Namun sekarang, masih banyak pemuda Dayak yang belum memahami ritual adat suku Dayak. Kaharingan sebagai kepercayaan asli suku Dayak sudah mulai ditinggalkan.

    Sebagai salah satu warisan budaya, Tiwah bisa mendatangkan wisatawan dalam dan luar negeri yang ingin mengenal lebih budaya asli suku Kalimantan ini.(KEL)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here