Home Lintas Kalteng Terisolir, 2 Kecamatan di Kotim Minim Pembangunan

Terisolir, 2 Kecamatan di Kotim Minim Pembangunan

348
0
SHARE

    Kotawaringin Timur- Keterisolasian jalan darat dinilai menjadi kendala utama sehingga pembangunan dua kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berjalan lambat dibanding kecamatan lainnya.

    “Selama masih terisolasi jalan darat, pembangunan di kawasan seberang ini akan tetap lambat. Biaya sangat tinggi karena harus diangkut melalui jalur sungai, kemudian dilanjutkan melalui jalan darat,” kata Camat Seranau, Siti Rahmaniar di Sampit, Rabu (13/2).

    Dua kecamatan yang masih terisolasi itu adalah Seranau dan Pulau Hanaut. Dua kecamatan ini terletak di kawasan seberang, hanya dipisahkan oleh Sungai Mentaya yang membelahnya dari pusat kota Sampit.

    Selama ini masyarakat mengandalkan angkutan sungai untuk beraktivitas. Masyarakat juga menggunakan feri penyeberangan mengangkut sepeda motor untuk beraktivitas setiap hari.

    Biaya pembangunan dan harga kebutuhan di dua kecamatan itu cukup tinggi padahal letaknya cukup dekat dengan pusat kota. Itu terjadi karena barang harus diangkut menggunakan angkutan sungai, kemudian dilanjutkan angkutan darat sehingga biaya angkut membengkak.

    Masyarakat sangat berharap pemerintah merealisasikan rencana pembangunan Jembatan Mentaya yang akan menghubungkan Kecamatan Baamang dan Seranau.

    Pembangunan jembatan itu dulu juga pernah dijanjikan Presiden Joko Widodo saat dialog melalui video jarak jauh dengan Bupati H Supian Hadi pada tahun 2015 lalu.

    Rahmaniar yakin pembangunan jembatan tersebut dapat memutus mata rantai kemiskinan yang kian tahun kian meningkat di dua kecamatan itu.

    Terhubungnya jalan darat akan membuat pembangunan dan aktivitas ekonomi masyarakat makin lancar sehingga diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    “Memang rencananya pemerintah daerah akan membangun jalan dari Jembatan Cempaga melintasi Seranau dan Pulau Hanaut. Mudah-mudahan itu nanti bisa membantu, meski jaraknya cukup jauh. Tapi masyarakat tetap berharap Jembatan Mentaya segera dibangun,” kata Rahmaniar.

    Tahun 2015 lalu, Bupati H Supian Hadi meresmikan Jembatan Cempaga. Jembatan ini menghubungkan dua kawasan yang selama ini terpisah oleh sungai.

    Sayangnya, rencana pembangunan lanjutan berupa badan jalan dari Jembatan Cempaga menuju Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut, sempat terkendala masalah status kawasan hutan. Namun tahun 2017, pemerintah menyetujui pengukuhan kawasan sehingga pembangunan jalan tersebut bisa dilaksanakan tahun ini.

    Jika jalan itu terwujud, maka Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut tidak lagi terisolasi. Namun kendala lain adalah jaraknya yang cukup jauh.

    Untuk menyeberang ke pusat kota Sampit, warga Seranau harus memutar melalui Jembatan Cempaga dengan waktu tempuh bisa mencapai dua jam.(AGN)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here