Home Lintas Kalteng Rawan Sebarkan Penyakit, Praktik Prostitusi di Kalteng Sangat Memprihatinkan

Rawan Sebarkan Penyakit, Praktik Prostitusi di Kalteng Sangat Memprihatinkan

172
0
SHARE

    Palangkaraya- Praktik prostitusi di Kalteng sudah menjadi penyakit masyarakat yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan tidak hanya di kompleks eks lokalisasi, kondisi ini juga ditemukan pada beberapa lokasi dan tempat hiburan.

    Data dari Dinas Sosial Kalteng mencatat, 95 persen dari 838 wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menjadi obyek dari bisnis ini merupakan eks PSK Dolly Surabaya.

    “Selebihnya yang 5 persen, ada yang berasal dari warga lokal dan sekitarnya,” ujar Kepala Dinas Sosial Kalteng Suhaemi.

    Di Kalteng sendiri, ada beberapa kompleks lokalisasi. Antara lain Kompleks Kalimati di Kotawaringin Barat, Kompleks Merong di Barito Utara, atau Bukit Sungkai Palangkaraya.

    Namun kenyataannya, praktik ini juga menyebar pada sejumlah daerah yang kemudian menjadi lokasi prostitusi dan di antaranya beroperasi secara terselubung sebagai warung remang, tempat karaoke, atau lainnya.

    Suhaemi mengakui, untuk melakukan penertiban terhadap lokasi atau kawasan yang disinyalir sebagai tempat praktik prostitusi merupakan sebuah hal yang sulit dilakukan.

    Padahal berbicara kerentanan penyebaran penyakit di lokasi seperti itu sangat rawan, karena pada lokalisasi umumnya lebih terawasi oleh petugas kesehatan sedangkan pada lokasi jauh dari pengawasan.

    Yang menjadi dilema, setiap kali Dinas Sosial kabupaten/kota melakukan razia bersama Satpol PP dan kepolisian, kerap hasil yang dicapai tidak maksimal karena keburu bocor.

    “Bicara soal prostitusi, kami sebenarnya tidak hanya berhadapan PSK. Banyak yang memiliki kepentingan di sana, seperti mucikari, pemilik barak atau kamar sewa, sampai pada pedagang yang berjualan di sekitarnya mendapatkan keuntungan,” kata dia.

    Pada beberapa kasus, mereka juga mendapati PSK yang sebenarnya telah dipulangkan ke daerah asal malah kembali datang untuk menjalani praktik tersebut.

    Apalagi pada beberapa daerah seperti di kawasan perkebunan dan pertambangan, potensi bisnis syahwat cukup menjanjikan.

    “Yang pasti, ini merupakan tantangan bagi kami dalam melakukan tindakan. Upaya untuk memanusiakan manusia sebenarnya terus dilakukan bahkan mereka yang bersedia meninggalkan pekerjaan seperti itu mendapat bantuan permodalan. Tapi semua kembali kepada masing-masing,” ujar Suhaemi.(AGN)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here