Home Wisata dan Kuliner Jelajah Kota Palangkaraya

Jelajah Kota Palangkaraya

298
0
SHARE

    Kota yang dibelah Sungai Kahayan ini mungkin masih belum menjadi kota tujuan utama pariwisata. Pamornya tak sekencang kota destinasi pariwisata Indonesia. Namun siapa sangka, ibu kota Kalimantan Tengah ini memiliki cukup banyak obyek wisata menarik yang sayang dilewatkan begitu saja. Tak hanya menawarkan wisata susur sungai ke pedalaman, sebagai ibu kota Provinsi ini juga memiliki sederetan obyek wisata alam, budaya, sejarah, belanja oleh-oleh hingga kuliner khas Dayak.

    Menuju sebuah rumah Betang khas suku Dayak di Jalan D.I Panjaitan. Meski bukan merupakan rumah Betang asli buatan suku Dayak pedalaman, namun rumah milik pemerintah setempat ini mampu mewakili bentuk aslinya.

    Di samping kiri kanan bangunan utama, terdapat beberapa patung khas Dayak berwujud manusia. Setiap patung memiliki tampilan yang berbeda. Ukurannya pun tak sama. Di sudut lain dijumpai sebuah rumah kecil bernama sandung. Komplek replika rumah Dayak ini dinamakan Mandala Wisata. Tujuannya adalah untuk menggelar kesenian budaya Dayak secara berkala, serta mengenalkan pada siapapun tentang keunikan rumah Betang.

    Perkampungan kecil bernama Kereng Bangkirai. Perjalanan sekitar 30 menit, dengan suguhan pemandangan hamparan sungai mirip sebuah danau raksasa. Lalu lalang klotok kecil di atasnya, mengesankan transportasi utama warga. Berkeliling Sungai Sebangau dengan menaiki klotok kecil yang dapat dicarter dengan bertarif murah.

    Mengunjungi Batu Ampar, sebuah lokasi yang selama ini dijadikan warga sekitar untuk mencari batu alam. Jaraknya sekitar 30 menit dari dermaga Kereng Bangkirai. Sepanjang perjalanan, disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. bak  danau raksasa. Ribuan pohon rasau terlihat merayap di atas air. Di celah-celah sempitnya rimbunan tersebut sang klotok melaju.

    Batu Ampar adalah sebuah hamparan lahan kosong yang di bawahnya terdapat limpahan hasil bumi berupa batu alam. Sejak kawasan ini ditetapkan menjadi salah satu bagian dari Taman Nasional Sebangau, batu alam di sekitar Batu Ampar agak dibatasi pemanfaatannya.

    Kawasan Yos Sudarso terkenal dengan penjaja makanan malamnya yang beragam. Mulai dari lalapan hingga sayur umbut rotan khas Dayak. Untuk menu khas Dayak atau nasi goreng yang khas.

    Tugu Soekarno di depan kantor DPRD Provinsi Kalteng. Tugu berbentuk seperti runcing-runcing bambu tersebut merupakan situs sejarah yang pernah dibangun Presiden Soekarno. Tujuannya adalah sebagai tanda mulai dibangunnya Palangkaraya dari nol. Konon katanya, Soekarno akan menjadikan kota ini sebagai ibukota RI. Kota kecil ini ternyata pernah menjadi impian Soekarno untuk ibu kota negara.

    Dermaga kayu. dengan kapal wisata susur sungai milik dinas wisata setempat. Namanya KM Lasang Teras Garu. Kapal yang beberapa bulan terakhir dimanfaatkan untuk membawa puluhan wisatawan menikmati pesona Sungai Kahayan.  Dengan hanya Rp 75 ribu , bisa membuktikan jika Sungai Kahayan sangat indah bila dinikmati dari atas kapal.

    Rute pertama kapal adalah persimpangan antara Sungai Kahayan dan Sungai Rungan. Perjalanan sekitar 1 jam lebih. Jembatan Kahayan segera menyambut kapal . Kiri kanan sungai disuguhi pemandangan hutan tropis khas Kalimantan. Barisan rapat pepohonan hijau tersebut membentuk lanskap yang sedap dipandang. Sesekali berselisih dengan klotok kecil milik warga di sekitar Sungai Kahayan. Umumnya klotok-klotok tersebut digunakan warga untuk mencari ikan air tawar yang banyak dijumpai di Kahayan. Diantaranya ikan baung, ikan lais, ikan patin sungai, ikan tapah hingga jelawat yang terkenal lezat.

    Situs sejarah Tajahan Tjilik Riwut. Di persimpangan Sungai Kahayan dan Sungai Rungan, kapal berbalik arah. Di sanalah terdapat situs sejarah ini . Tajahan merupakan lokasi keramat yang sangat disucikan oleh suku Dayak khususnya yang berkeyakinan Kaharingan. Jika mempunyai keinginan yang terkabul, warga Dayak biasanya menaruh kain kuning dan sesaji di Tajahan.  konon , tajahan ini merupakan tajahan yang sering dikunjungi pahlawan nasional asal Kalteng, Tjilik Riwut. Di sekitar tajahan tersebut terdapat enam buah rumah mini yang isinya ditemui beberapa telur dan tulang untuk sesajen.

    Dari atas dek kapal , makin leluasa menyaksikan pemandangan di sepanjang sungai yang membelah Palangkaraya ini. Kapal kembali merayap di bawah Jembatan Kahayan. Rute selanjutnya adalah menyaksikan perkampungan di atas sungai. Warga setempat menyebutnya rumah lanting. Rumah terapung yang hanya ditopang beberapa kayu gelondongan. Tak hanya sebagai sebagai rumah tinggal saja, warga juga memanfaatkan “halaman” nya sebagai lahan untuk bertambak ikan air tawar. Kios dengan aneka jenis dagangan pun, tak jarang saya temui disini.

    Untuk menuju perkotaan, salah satu transportasi favorit adalah klotok bermesin. Warga setempat sangat bergantung pada sungai. Rumah, pekerjaan dan segala jenis kebutuhan lain sangat bergantung pada Kahayan.

    Tak terasa 3 jam perjalanan di atas kapal. dengan mendapatkan banyak pengalaman. Betapa alam dan manusia berpadu manis di sepanjang Kahayan. Kapal kembali merapat di dermaga.

    Kuliner khas Dayak RM Samba adalah tempat favorit untuk menyantap menu khas Dayak di Kalteng, ikan jelawat bakar. Menu pelengkap nya adalah sayur asam rotan muda, sambal tomat, sayur serai yang diulek dengan ikan sungai dan sepiring nasi putih.

    Wisata Belanja. Jalan Batam di sudut lain Palangka Raya menyediakan begitu banyak toko oleh-oleh. Tak hanya Mandau pedang khas Dayak, puluhan toko di sini juga menjajakan kain khas Dayak bermotif batang garing, perahu karet nyatu, gelang simpay, tikar lampit, kaos hingga amplang yang berbahan utama ikan pipih.

    Pasar souvenir andalan Palangka Raya ini juga terkenal di kalangan wisatawan asing yang bertandang ke Kalteng. Di pasar ini banyak ditumukan turis manca negara karena mereka menjadikan Palangkaraya sebagai pintu masuk utama menuju Taman Nasional Tanjung Puting yang berjarak sekitar 11 jam perjalanan darat.

    Museum Balanga di Jalan Tjilik Riwut. memaparkan sejarah dan budaya suku Dayak di Kalteng. Suasana memasuki  ruangan luas yang terdapat banyak sekat. Dimana-mana sama, berkesan sepi dan agak sedikit angker. Melihat  penyang. Sebuah kalung milik warga Dayak jaman dulu yang diyakini sebagai penangkal dari bahaya musuh. Kalung kuno tersebut dihiasi oleh jejeran gigi beruang seukuran jari kelingking orang dewasa.

    Pulau Kaja di Kecamatan Tangkiling. Jaraknya sekitar 40 menit perjalanan darat. difasilitasi dengan  Dermaga Tangkiling di tepi Sungai Rungan. dengan klotok menikmati  Perkampungan suku Dayak di sepanjang sungai  ke Pulau Kaja
    Dengan tarif sewa hanya Rp 40 ribu , berkeliling Pulau Kaja dan mampir ke Desa Sei Gohong.

    Meski tak setenar TN Tanjung Puting, pesona orang utan yang hidup bebas di Pulau Kaja sangatlah menggoda selera petualangan apalagi banyak juga ditemani oleh turis asing dari berbagai negara.

    Merapat ke tepian Pulau Kaja yang rimbun pepohonan, langsung disambut seekor orang utan dewasa yang tengah menggedong anaknya.  Tak peduli dengan keberadaan pengunjung, keluarga kecil hewan eksotis itu terlihat santai di atas pohon. Sesekali sang bayi bergelayutan manja di tubuh induknya. Hewan kebanggaan Indonesia di mata dunia tersebut, terkesan gagah sekaligus menggemaskan.

    Desa Sei Gohong , klotok kembali melaju menuju perkampungan kecil yang dihuni suku Dayak Ngaju. Desa Sei Gohong namanya. puluhan anak-anak yang tengah asyik bermain di sekitar dermaga kayu. Berkunjung ke Sandung. Benda mirip rumah kecil tersebut merupakan tempat meletakkan tulang belulang suku Dayak yang telah meninggal dunia. Keluarga yang masih hidup harus melaksanakan upacara tiwah, sebelum membongkar makam dan mengambil tulang belulang di dalamnya. Untuk kemudian ditaruh di sandung.

    Di sekitar sandung, juga terdapat beberapa sapundu. Sebuah tiang dari kayu yang diukir mirip manusia. Sapundu dimaksudkan untuk mengikat kerbau atau sapi pada saat perayaan tiwah. Peletakan tulang belulang dalam sandung serta tiwah sebagai acara pengiringnya adalah hanya bagi mereka yang memiliki dana cukup. Sebab, acara tiwah rata-rata menghabiskan dana sekitar Rp 25 juta untuk satu orang yang wafat.

    Fantacy Beach. Sebuah kawasan eks penggalian pasir di tepi jalan. Saat ini kondisinya menyerupai sebuah danau seukuran lapangan sepak bola. Yang dilengkapi aneka wahana wisata keluarga seperti flying fox, kayak, café hingga gazebo untuk bersantai. Segelas es kelapa muda dan ditumpahi oleh matahari senja yang indah menjadi pelengkap di penghujung aktivitas menikmati pesona Palangkaraya.(AGN)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here