Home Nasional Tjilik Riwut, Perjuangan dan Pembangunan

Tjilik Riwut, Perjuangan dan Pembangunan

113
0
SHARE

    Palangkaraya- Pada tahun 1998, pada masa Pemerintahan BJ Habibie, Tjilik Riwut dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Nama Tjilik Riwut pun diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

    Pria kelahiran Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah pada 2 Februari 1918 ini tercatat memiliki karir di bidang militer, pemerintahan bahkan dalam dunia pers Indonesia.

    Atas pengalamannya dan keterlibatannya langsung dalam perjuangan Indonesia di masa penjajahan dan pasca kemerdekaan, maka pemberian gelar pahlawan kepada Tjilik Riwut bukanlah suatu hal yang berlebihan. Terlebih jika melihat apa saja yang sudah ia lakukan, baik bagi Indonesia maupun bagi tanah kelahirannya, Kalimantan.

    Boleh dibilang pria asli suku Dayak ini memiliki andil besar atas bersatunya Kalimantan sebagai salah satu wilayah negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).

    Andil Tjilik Riwut atas bersatunya Kalimantan menjadi bagian dari NKRI bisa dilihat pada peristiwa di tanggal 17 Desember 1946. Saat itu Indonesia secara de facto sudah merdeka, walau masih banyak pergolakan dan perjuangan melawan penjajahan di tanah nusantara.

    Saat itu pula tokoh-tokoh bangsa berusaha menggalang kesatuan dan persatuan wilayah-wilayah di Indonesia. Tidak ketinggalan wilayah Kalimantan yang saat itu pun menyatakan sebagai bagian dari NKRI.

    Tjilik Riwut dan beberapa tokoh perwakilan suku-suku Dayak di pedalaman Kalimantan yang berjumlah 142 suku berkumpul bersama untuk melaksanakan sumpah setia kepada Pemerintah Republik Indonesia di hadapan Presiden Soekarno. Pengambilan sumpah setia dilakukan dengan upacara adat leluhur suku Dayak.

    Sumpah setia tersebut berupa kesanggupan dari para suku yang hadir untuk mempertahankan daerahnya masing-masing. Sehingga, meskipun nantinya presiden dan wakil presiden kembali ke Batavia secara de facto, pedalaman Kalimantan tetap menjadi wilayah NKRI. Sumpah setia ini dilakukan di Istana Kepresidenan Gedung Agung, Yogyakarta (Riwut,1947:7-9).

    Tidak berhenti sampai di situ, sekira setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 17 oktober 1947, Tjilik Riwut mendapat perintah dari Kepala TNI AU saat itu, S. Suryadarma.

    Tugasnya sebagai Komandan Pasukan MN 101 Mobiele Brigade MBT/TNI Kalimantan adalah memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung kali pertama oleh pasukan MN 1001 di desa Sambi, Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

    Dalam operasi tersebut, Tjilik Riwut bertanggung jawab menjadi penunjuk jalan bagi tim yang berjumlah 13 orang. Untuk mengenang peristiwa penting dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ini, tanggal 17 Oktober pun resmi ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU.

    Awal Perjuangan

    Suami dari Clementine Suparti ini mengawali perjuangannya untuk Indonesia sejak dirinya menjadi wartawan. Di tahun 1936 Tjilik Riwut pernah menjalani kursus kewartawanan. Pada tahun 1940, dia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pakat Dayak yang bernama Suara Pakat.

    Pada kurun waktu yang sama dia juga bekerja sebagai koresponden Harian Pembangunan yang dipimpin oleh Sanusi Pane dan Harian Pemandangan pimpinan M. Tabrani.

    Saat aktif dalam dunia jurnalisme, Tjilik Riwut menjadi penyambung informasi tentang pergerakan nasional baik di Kalimantan maupun luar Kalimantan seperti Jawa dan Sumatera.

    Di tahun 1942, ketika Jepang tiba di Balikpapan, ia memutuskan untuk bekerjasama dengan militer Jepang dan mendapat tugas sebagai intelejen militer Jepang. Jabatan tersebut justru ia manfaatkan untuk bergerak masuk ke pedalaman Kalimantan.

    Upaya Tjilik Riwut masuk ke pedalaman Kalimantan itu menjadi salah satu modal yang membuat ia bisa menghimpun dukungan dari suku Dayak untuk berjuang dan menyatakan sebagai bagian dari NKRI.

    Gubernur Kalteng Pertama

    Setelah penjajah angkat kaki dari Indonesia, tepatnya saat Belanda mengakui kedaulatan negeri ini pada tahun 1949, Indonesia mulai fokus menjalankan pemerintahan.

    Saat Indonesia mulai menjalankan sistem pemerintahan di awal kemerdekaan, Tjilik Riwut pun mendapat kepercayaan untuk memiliki karir politik pemerintahan.

    Pada tahun 1950 dia menjadi Bupati Kotawaringin Timur. Kemudian menjadi Bupati Kepala daerah Swantara TK II Kotawaringin Timur pada tahun 1951 hingga tahun 1956. Ada sejumlah jabatan strategis yang dijabat oleh Tjilik Riwut sampai akhirnya di tahun 1959 dia menjabat sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Pertama. Ia menjabat hingga tahun 1967.

    Jabatan strategis di tanah kelahirannya sendiri dimanfaatkan betul oleh dia untuk membangun Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah. Ia terlibat langsung bersama sejumlah orang lainnya untuk mencari ibu kota bagi Kalimantan Tengah. Akhirnya dipilihlah Pahandut untuk dibangun dan menjadi Palangkaraya, sebagai ibu kota.

    Untuk menjadikan sebuah desa menjadi ibu kota bukanlah perkara mudah. Areal yang saat itu masih didominasi hutan belantara harus dibuka dan dilakukan pembangunan. Saat itulah Tjilik Riwut menggalang semangat masyarakat dan pihak terkait di Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membangun.

    Menariknya, Tjilik Riwut seolah mengesampingkan jabatannya sebagai Gubernur, dan ia turun langsung menyumbangkan tenaganya untuk menebang pohon bersama warga. Tidak hanya itu, dia juga menyumbangkan uang pribadinya untuk memberi makan orang-orang yang turut membangun Palangkaraya.

    Mantan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang mengamini bahwa Tjilik Riwut memiliki kontribusi yang begitu besar bagi pembangunan di Kalimantan Tengah. Bahkan ia menyebut bahwa Tjilik Riwut sebagai salah satu pendiri dari Provinsi Kalimantan Tengah.

    “Banyak jasa-jasa beliau yang luar biasa untuk Kalimantan Tengah, khususnya dalam rangka untuk membangun pertama kalinya Kota Palangkaraya dan kemudian tentu juga kabupaten-kabupaten lain yang pada saat itu bersama-sama di Provinsi Kalimantan Tengah,” ungkap Teras saat dihubungi Validnews melalui telepon selulernya, Minggu (13/8/2017) malam.

    Ia berpendapat bahwa upaya pembangunan yang dilakukan Tjilik Riwut adalah bentuk langsung kepeduliannya terhadap kemajuan rakyat di Kalimantan Tengah.

    “Juga perhatian beliau, baik dalam bentuk yang konkret dan juga pemberi semangat dalam rangka untuk membangun sumber daya manusia di Kalimantan Tengah ini,” kata Teras.

    Selain itu menurutnya patut diingat bahwa Tjilik bisa memanfaatkan momentum persatuan bangsa Indonesia yang memang sedang bergelora pada saat itu. Hal inilah yang membuat dia berhasil menggalang kesepakatan bersama ratusan suku Dayak di Kalimantan untuk bergabung dengan NKRI.

    Ia menambahkan, saat berjuang untuk persatuan sebagai bagian dari Indonesia, harus diakui juga bahwa Tjilik Riwut pun berperan banyak dalam rangka memperkuat kesukuan atau budaya lokal di Kalimantan. Menurutnya, Tjilik Riwut adalah salah satu tokoh yang berperan dalam hal penguatan budaya di Kalimantan.

    “Karena beliau adalah sebagai pemimpin, nah tentu beliau adalah sebagai sumbu di dalam rangka untuk memberikan kekuatan, semangat pada masyarakat Dayak,” tandasnya.(AGN)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here