Home Lintas Kalteng BKSDA Telusuri Induk dan Anak Orang Utan

BKSDA Telusuri Induk dan Anak Orang Utan

106
0
SHARE

    Kotawaringin Timur- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Pos Jaga Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, menelusuri keberadaan induk dan anak orang utan yang sempat terlihat di kebun warga.

    “Kemarin malam kami dapat laporan ada gangguan orang utan. Tadi pagi diperiksa tapi tidak ada ditemukan,” kata Komandan BKSDA Pos Jaga Sampit, Muriansyah di Sampit, Jumat.

    Kemunculan dua orang utan itu disampaikan oleh seorang warga bernama Rusli. Lokasi kemunculan satwa langka dengan nama latin “Pongo Pygmaeus” itu berada di Desa Bagendang Hulu Kecamatan Mentaya Hilir Utara.

    Tim BKSDA turun ke lokasi berkoordinasi Kapolsek Sungai Sampit Ipda Muhammad Affandi. Tim juga membawa serta Rusli dan warga lainnya yang mengetahui kondisi kawasan tersebut.

    Dua orang utan yang sempat muncul dan terlihat oleh warga adalah induk dan anak. Satwa langka itu diduga kelaparan dan sedang mencari makanan hingga masuk ke kebun milik Rusli yang luasnya sekitar sembilan hektare karena di kebun itu ada pohon sawit yang baru ditanam yang bisa dijadikan makanan orang utan.

    Induk dan anak orang utan itu diduga berasal dari kawasan hutan di sekitar kebun Rusli. Hutan dengan vegetasi dominan semak belukar dan pepohonan seluas 50 hektare itu mudah diakses karena ada jalan yang bisa dilalui mobil.

    “Hasil pemeriksaan, tidak ditemukan induk dan anak orang utan tersebut. Namun dua orang utan itu diyakini memang sempat tinggal di kawasan itu karena ada ditemukan enam sarang orang utan yang diduga sudah lama dibuat,” kata Muriansyah.

    BKSDA tetap memantau kondisi di lapangan. Jika ada warga yang melihat kemunculan dua orang utan itu maka akan segera ditindaklanjuti dengan mengirim tim ke lapangan.

    Jika berhasil ditangkap dan dievakuasi, dua orang utan itu akan dibawa ke Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat untuk diperiksa dan diobservasi. Jika sudah stabil, orang utan itu akan dilepasliarkan ke habitat aslinya Suaka Margasatwa Lamandau.

    Muriansyah mengimbau masyarakat tidak menangkap, membunuh, memperjualbelikan atau memelihara orang utan karena orangutan sangat rentan mati dan menularkan berbagai penyakit kepada manusia. Bagi yang melanggar aturan, maka akan diproses secara hukum dengan ancaman sanksi yang berat.(RSD)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here